It’s all challenging to battle demons who have the shape of somebody you love

It’s all challenging to battle demons who have the shape of somebody you love

Dan belakangan waktu gue akhirnya punya kekuatan untuk ngegas balik, gue tanya kenapa segitunya amat ngatur gue harus punya media sosial apa nggak. Ternyata jawabannya adalaaah… “Aku takut kamu sama kenalan cowok baru lewat Facebook.”

Yailah… kalo mau nyari cowok lain mah nggak usah nunggu Myspace. Kalo mau diusahain pake cara-cara goib yang nggak akan kedeteksi dia juga bisa. Akhirnya hilang sudah akun Fb gue, jadi yang kalian liat sekarang itu deal with yang gue bikin baru. Begitu gue mau bikin pake nama lama (teppy), udah keburu diambil orang namanya.

Love-dislike relationships is actually extremely super problematic to play

Waktu Argo dan Dinda berantem di dressing up area, ada satu kalimat Argo yang bikin gue bergidik dan ke-end in banget. Berikut bunyinya:

ARGO: “Sama temen-temen kamu bisa nggak enakan (muka Dinda diremes sambil dihardik). Sama keluargaku kamu seenaknya (Dinda didorong ke kursi).”

Kenapa bergidik? Karena gue dulu juga dapet jawaban yang mirip-mirip waktu gue protes kenapa gue nggak bisa hangout sama temen-temen gue. Kata carried out Yang Dipertuan Agung saat itu:

Jadi ciri-ciri canoe gini harus dikenali ya teman-teman. Kalo kalian merasa kok jadi makin jauh sama temen-temen dan keluarga, makin dikontrol, dan hidup kalian yang tadinya bebas tanpa dia malah jadi terkekang, itu bisa jadi tanda-tanda hubungan harmful. Orang canoe gini kan manipulatif, jadi pasti dia akan selalu punya pembelaan, misal:

“Ya ini kan konsekuensi punya pasangan. Kalo udah punya pacar ya udah pasti waktu antara temen dan kita ya harus dibagi, kamu nggak bisa seenak-enaknya pergi dan ketemu temen-temen kapanpun yang kamu mau.”

Dalam hubungan yang regular dan sehat, kalimat di atas ada benarnya kalo DUA-DUANYA emang SALING menjaga keseimbangan pembagian waktu antara top quality time sama pasangan dan membina hubungan baik sama temen-temen. Tapi mereka kan jago gaslighting, sehingga lo nanti jadi bertanya-tanya sendiri mana yang bener dan mana yang salah. Jadi lo harus telaah, ini rasanya timpang apa nggak, ya? Ketika lo ngerasa udah nggak jadi diri lo sendiri dan terlalu banyak yang dikorbanin untuk nyenengin dia padahal elonya makan ati, bisa jadi hubungan kalian emang masuk kategori toxic.

Kale dateng ke Dinda untuk bantu bikin Dinda “sadar

Kata hati sama insting tuh nggak pernah berdusta, men. Plus do not be frightened to ask to have help. If you prefer let, go come across it. Jangan takut di-courtroom atau apapun, yang penting elo selamet dulu.

Setelah baku hantam sama Argo dan kacamatanya pecah sebelah. ” Di satu sisi, wejangan Kale emang ada benarnya dan gue yakin niatnya baik walau pendekatannya menurut gue rada intrusif dikit disertai bau-bau modus, tapi emang intervensi ini perlu secara Kalenya juga udah lebam gara-gara au moment ou kunyuk pacarnya Dinda.

Orang yang masih di bawah pengaruh punishment emang jawabannya akan formulaic gini. Mereka akan selalu punya jawaban (during the assertion) untuk ngebela pacarnya yang kasar. Dinda juga nambahin https://datingranking.net/pl/sudy-recenzja/ kalau bisnisnya Argo lagi nggak bagus sehingga Argo jadi gampang kesulut amarah dan Dinda nggak bisa jadi pacar yang baik (untuk bikin Argo nggak emosi). Dinda bilang Argo tadi berbuat canoe gitu “karena sayang kok.” Dinda bahkan mengamini kalau di kejadian tadi emang Dinda yang salah (padahal kita semua tau siapa yang salah). Terus Dinda malah “nyalahin” Kale dengan bilang Kale tuh tau apa sih soal arti sayang karena selama dia kenal Kale dia nggak pernah liat Kale pacaran. Udah selesai? YA TENTU SAJA BELUM. Dinda juga mengeluarkan kalimat pamungkas:

“Yah… walaupun Argo lagi sering emosi canoe gini, tapi aku yakin kok dia akan berubah suatu saat nanti. Kamu nggak ngerti, Le, soalnya kamu nggak ngalamin, sih. Setiap hubungan itu punya harganya, dan aku lima tahun sama Argo nggak cuma dipukulin doang kok. Banyak hal-hal yang bikin aku seneng.”